Minggu, 25 Mei 2008

Teori pendidikan

FILSAFAT PERENIALISME
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik.
1. Pandangan mengenai kenyatan
Perenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama ialah jaminan bahwa realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada di mana saja sama di setiap waktu.
2. Pandangan mengenai nilai
Perenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan.
3. Pandangan mengenai pengetahuan
Kepercayaan adalah pangkal tolak perenialisme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaian antara piker (kepercayaan) dengan benda-benda. Sedang yang dimaksud benda adalah hal-hal yang aadanya bersendikan atas prinsip keabadian.
Menurut Aristoteles, prinsip-prinsip itu dapat dirinci menjadi :
a. Principum identitatis, yaitu identitas sesuatu.
b. Principum contradiksionis,yaitu hukum kontradiksi (berlawanan).
c. Principum exelusi tertii, tidak ada kemungkinan ketiga.
d. Principum rationis sufisientis. Prinsip ini pada dasarnya mengetengahkan apabila barang sesuatu dapat diketahui asal muasalnya.
4. Pandangan tentang pendidikan
Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan filsafat Thomas Aquina yamg mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya.
5. Pandangan mengenai belajar
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah: mental disiplin sebagai teori dasar penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir. Mental disiplin adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar yang tertinggi.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan :
a. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan dan akl (plato)
b. Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya. (Aristoteles)
c. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)

FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal, menyala tidak pernah sampai pada yang paling eksterm, serta prulatis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang tersimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk memepertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

TEORI KONSTRUKTIVISME
Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.
Konstruktivisme merupakan satu pendekatan yang didapati sesuai dipraktikan dalam pengajaran dan pembelajaran sains. Dalam pendekatan ini murid dianggap telah mempunyai idea yang tersendiri tentang sesuatu konsep yang belum dipelajari.
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas,bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori,konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.

BERMAKNA DAN MENGHAFAL
Menurut Ausubel, ada dua macam proses belajar yakni belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna berarti informasi baru diasimilasikan dalam struktur pengertian lamanya. Belajar menghafal hanya perlu bila pembelajar mendapatkan fenomena atau informasi yang sama sekali baru dan belum ada hubungannya dalam struktur pengertian lamanya. Dengan cara demikian, pengetahuan pembelajar selalu diperbarui dan dikonstruksikan terus menerus.

1 komentar:

Kang Badruns7 mengatakan...

Assalamu 'Alaikum wr. Wb
Lam knal n mohon Keihlasanya saya meng copas makalah Anda. Atas keihlasan anda smoga Anda mendapatkan imbalan yang setimpal dari Alloh SWT yang lbih baik n lebih banyaj Amin.
Wassalamu 'Alaikum Wr. Wb.
www.badruns7.co.cc